Rabu, 31 Juli 2013

Juli 2013

Juli 2013.. Banyak peristiwa yang kualami. Kelulusan dari program Magister Sains Psikologi UI salah satunya. Yah setelah melalui berbagai perjuangan dan pengorbanan, Alhamdulillah lulus juga.

Juli 2013, usiaku bertambah lagi.. Sudah melebihi seperempat abad. Usia kritis pertanyaan: "Kapan nikah?" Umumnya wanita di keluargaku menikah pada usia ini. Aku sendiri belum berpikiran untuk menikah. Masih banyak hal yang harus kucapai sebelum aku menikah. Lagipula, belum bertemu sosok yang pas.

Juli 2013, bertepatan dengan bulan Ramadan 1434 H. Ah abang, kita berulang tahun pada bulan yang sama kali ini. Tapi kita tak saling.mengucapkan. Walaupun akhirnya komunikasi tersambung lagi, tapi ucapan itu sama2 tak saling terlontarkan. Untuk apa sebuah ucapan, bukankah lebih baik saling mengetahui kabar.

Juli 2013, yah dengan bulan Ramadan menghampiri ini, Juli terasa sangat istimewa. Namun sayangnya ibadah Ramadanku tidak terlalu baik tahun ini.

Juli 2013, hujan masih membasahi bumi. Padahal seharusnya musim hujan sudah berlalu sejak beberapa bulan yang lalu bukan? Hujan membasahi Juni saja orang sudah takjub, sampai dibuat puisinya. Nah ini hujan bahkan sampai menghampiri Juli. Pertanda alam sudah berubah, peringatan untuk kita. Namun, syukuri saja, berpuasa jadi tak terasa. Karena cuaca teduh dan sejuk.

Juli 2013, aku memperoleh idola baru. Yah apapun dan bagaimanapun beliau. Beliau tetap istimewa untukku. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk terus bersama beliau dan mendapatkan ilmu beliau.

Juli 2013.. Aahh.. Apakah cinta baru juga menghampiri? Entahlah, hati kecilku sebenarnya menolak kehadirannya. Aku tak mau jatuh ke lubang serupa lagi. Tak mau lagi mencintai seseorang yang tak mungkin untukku. Namun tak bisa kupungkiri, setiap bertemu dengannya, jantung berdebar kencang. Tak berani menyapa. Selalu dia yang menyapa duluan. Ah semoga ia tak menyadarinya. Dan semoga rasa ini cepat berlalu.

Juli 2013, pertama kalinya keluargaku tidak lengkap. Adik bungsuku sedang melanjutkan pendidikan di bumi para wali. Ada rasa kehilangan, namun ini yang terbaik untuknya. Semoga kelak ia pulang, ia menjadi manusia yang sangat bermanfaat, Aamiin.

Juli 2013, Harry Potter berulang tahun yang ke-33, dan penciptanya (J.K. Rowling) juga berulang tahun (yang ke 48). Bersama Indo Harry Potter aku merayakannya seharian. Mulai dari syuting Indonesia Morning Show di Net TV, lomba foto, lomba fanfiction, bedah buku (Buck Beak Book) Harry Potter 2, buka puasa bersama, dan tukeran kado. Menyenangkan sekali menjadi bagian dari komunitas ini. Punya sahabat dan keluarga baru. Semoga kebersamaan ini berlangsung sangat lama.

Juli 2013.. Hari ini hari terakhir di bulan Juli 2013. Juliku sayang sudah hampir meninggalkan. Sedih berpisah dengan bulan kesayangan. Berharap bisa bertemu berpuluh-puluh Juli lagi. Berharap Juli tahun depan jauh lebih baik dari pada Juli tahun ini, Aamiin. See you my lovelu month. I will miss you. :-*

Sabtu, 02 Maret 2013

Pengajian lingkaran itu ternyata pengkaderan sebuah partai

Begitu membaca judul di atas mungkin sebagian orang akan bilang: "Yaelah.. kemana aja Cha? Baru tau Cha?" Atau anggota kelompok itu mungkin akan berkata: "Ya, Benar.. Terus kenapa? Ada yang salah? Masalah buat lo?"

Dibilang baru tahu sih ga juga ya.. sudah lama menduga, tapi aku berusaha ga berpikir sejauh itu karena takut salah sangka (walau ternyata benar). Ga masalah sih buat aku, hanya agak kecewa ya.. koq berkedok pengajian gitu.

Aku sebut di sini Pengajian Lingkaran (PL) saja ya, walau ada istilah khususnya. Aku menulis berdasarkan pengalaman dan pendapatku serta cerita seorang teman yang baru saja menceritakan hal ini kepadaku tadi sore.

Aku sudah mengenal PL sejak SMA, awalnya PL menurutku merupakan semacam pembinaan agama Islam pada murid-murid baru dari kakak kelasnya yang tergabung di ROHIS. Pembinaan itu berupa pembacaan Al-Qur'an dan penjelasan agama yang diberikan secara berkelompok. Satu kelompok kurang lebih 10 orang, dan mereka duduk secara melingkar, oh ya jenis kelamin yang berbeda dipisahkan ya. Aku sempat mengikutinya selama beberapa waktu (tidak sampai 1 tahun sih). Aku kemudian dilarang orang tua untuk mengikuti kegiatan itu. Abah memang agak keras, karena takut anaknya mendapatkan pemahaman agama yang keliru. Alhamdulillah, aku pernah mendapatkan pelajaran agama Islam sejak Ibtidaiyyah (SD) sampai Tsanawiyyah (SMP). Jadi sebetulnya aku sudah mengerti tentang materi-materi yang diajarkan di PL itu, dan sejauh yang aku ikuti tidak ada yang menyimpang, cuma ya nurut aja, karena ga boleh aku ga nerusin deh.

Sewaktu masuk kuliah S1, Aku kembali bertemu dengan PL ini sebagai bagian dari Orientasi Pengenalan Kampus. Cara kerjanya persis seperti waktu SMA, namun akan ada "naik levelnya". Karena dianggap pengetahuan agamaku cukup baik, maka aku paling cepat naik level, baru beberapa bulan aku sudah dikirim ke level universitas, namun aku tidak ikuti. Dipanggil yang kedua kalinya pun masih tidak kutanggapi karena memang tidak diizinkan. Namun aku tetap berhubungan baik dengan kakak pembimbing dan teman-teman. Kesempatan itu datang lagi sewaktu aku S2, baru-baru ini. Aku sudah mau mengikuti PL, karena aku diajak sahabat yang aku percayai, dan teman-teman baru yang kutemui di sana memang baik-baik. Sayangnya sang pembimbing menolakku karena dianggap dari 0 (masalah keterikatan atau ketekada hati karena dianggap hampir tidak pernah mengikuti PL sebelumnya, padahal secara materi aku bisa mengikuti). Aku diminta bergabung di kelompol pemula. Aku menolak karena merasa akan asing kalau tidak ada teman yang kukenal sebelumnya. Yah jadilah aku tidak mengikuti PL dengan semestinya lagi.

Karena hampir tidak mengikuti PL kecuali waktu-waktu awal masa SMA dan kuliah, yang aku tahu dan pahami tentang PL adalah pembacaan Al-Qur'an, sharing ilmu agama (gonta ganti antara tafsir, fiqih, sejarah Islam, dsb), serta sharing keadaan hati, diri, dan kuliah (curhat-curhatan dengan kakak mentor) dalam upaya saling menjaga iman. Yah memang sih sempat dengar kabar bahwa bisa cari jodoh juga tuh dengan jalan ta'aruf dan tuker2an CV gitu. Beberapa teman yang aktif PL sampai jadi mentor buat junior sih memang terlihat sangat membela satu partai tertentu. Aku sih sebetulnya tidak mau berpikiran bahwa mereka kader partai itu atau bahkan berpikiran bahwa PL merupakan ajang kaderisasi partai itu, sampai mendengar cerita temanku tadi.

Temanku bercerita mulai dari awal, yaitu PL diawali dari sekelompok alumni Universitas Islam dari timur tengah yang berusaha memperbaiki generasi bangsa dengan memberikan bimbingan agama kepada adik-adiknya, seperti yang mereka dapatkan dari negeri-negeri Islam itu. Kemudian pengajian tambah besar dan dapat dijadikan gerakan. Gerakan ini berusaha menyerupai gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Gerakan ini sebenarnya masih gerakan yang "lurus", belum dikotori kepentingan apapun. Sampai akhirnya pada masa reformasi, beberapa dari mereka setuju untuk membentuk partai (walau masih diwarnai kontroversi, ada yang tidak begiti setuju untuk membentuk partai). Yah kemudian partai tersebut masih berdiri sampai saat ini meski ada pergantian nama.

Nah seiring dengan berjalannya waktu, PL pun berubah perlaham menjadi ajang pengkaderan partai itu. Yang diajarkan di sana lebih banyak mengenai hal ihwal jamaah (perkumpulan) dibanding masalah-masalah keagamaan yang lain. Temanku itu agak kecewa, karena ia berpikir awalnya dengan ia mengaji, maka mendapatkan ilmu agama yang lebih, namun hanya sekedar ilmu agama tentang gerakan perkumpulan itu.

Bahkan menurut temanku, dia diwajibkan untuk mematuhi perintah dari kelompok itu, kalau tidak mengikuti maka dia dianggap berdosa dan bisa saja didenda. Misalnya saja dalam pemilu maupun pilkada. Kalau memilih yang tidak didukung partai itu maka dianggap berdosa. Temanku itu mengeluarkan pendapat yang berasal dari kelompok itu: "Lebih baik sama-sama tercebur lumpur daripada bersih sendirian. Selain ada dosa pribadi, ada juga dosa kelompok". Astaghfirullah.. aku tidakvmenyangka bahwa mereka sampai segitunya dan bersyukur mematuhi kata-kata abah.

Tulisan ini aku buat tidak dengan maksud menyinggung kalian yang masih tergabung pada gerakan dan partai itu. Aku hanya berharap dan berdoa bahwa kalian bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Salah satunya adalah tidak mengkultuskan seseorang sampai menjadi malaikat dengan yakin bahwa dia tidak bersalah sama sekali dari suatu hal. Manusia tetaplah manusia, tidak lepas dari khilaf, begitupun dengan saya. Kita istighfar saja, Astaghfirullahal'adzim.

Senin, 28 Januari 2013

Agatha Christie, Ratu Sel Kelabu

Saya sudah membaca sekian banyak novel karya Agatha Christie sejak saya SMP. Buku-bukunya saya dapatkan mulai dari meminjam dari perpustakaan sekolah, dari teman, sampai mengoleksi sendiri.

Tak pernah bosan rasanya ikut terjun berpetualang bersama para tokohnya. Seringkali saya mencoba menebak pelaku kejahatan, motifnya, dan jalan cerita. Namun, sang ratu kriminal ini seringkali juga berhasil memperdaya saya. Jalan ceritanya susah ditebak. Kasusnya sulit dipecahkan.

Ya, sampai saat ini belum ada yang menandinginya kecuali Sir Arthur Conan Doyle. Ah tapi Conan Doyle hanya sukses dengan satu tokoh, sementara Agatha punya banyak tokoh dengan berbagai karakteristik. Memang banyak yang membandingkan antara Sherlock Holmes dan Hercule Poirot. Mungkin untuk orang awam, mereka terlihat sama saja. Sama-sama tokoh detektif swasta di Inggris, sama-sama punya sahabat yang senantiasa menulis kisah mereka.

Namun sebenarnya mereka sangatlah berbeda. Bukan, bukan hanya sekedar perbedaan kewarganegaraan atau tampilan fisik! Akan tetapi perbedaan pola pikir dan cara menganalisa suatu kasus. Sherlock Holmes menganut paham empiris, sementara Hercule Poirot menganut paham rasionalis. Hal ini pernah diakui Poirot pada salah satu kasus yang sedang ditekuninya. Jika Holmes perlu bukti empirik dengan menggunakan segala alat yang dimilikinya, Poirot cukup berpikir dengan logikanya.

Nah, nama Holmes memang beberapa kali disebut dalam cerita-cerita Poirot. Menurut saya, ini daya tariknya. Poirot agak kesal jika ia dibanding-bandingkan dengan tokoh fiktif Inggris itu, padahal dia sendiri juga fiktif, sangat menggelikan. :-)

Poirot memang detektif favorit saya dibandingkan tokoh-tokoh Agatha Christie lainnya. Bersama Poirot, kita akan dibawa ke berbagai negara. Bersama Poirot kita akan berpetualang dengan kasus-kasus terhebat di dunia. Ah tak peduli berapapun usianya, Poirot masih lincah menangani setiap kasusnya.

Saya sangat suka dengan kalimat saktinya: "Biarkan sel-sel kelabuku bekerja". Yah, ini bukan sekedar kiasan atau ungkapan filosofis (konotasi). Namun juga kata-kata aktual (denotasi). Sebagai alumni Jurusan Biologi, saya mengetahui bahwa sel-sel syaraf dapat dibedakan dari warnanya berdasarkan pernah digunakan atau belum. Sel-sel syaraf akan berubah menjadi warna abu-abu jika sudah digunakan, namun akan tetap berwarna putih jika belum pernah digunakan. Jadi kecerdasan seseorang tidak lagi ditentukan oleh berapa besar ukuran otaknya, tapi berapa banyak jumlah sel kelabunya. Poirot tentunya sudah banyak memiliki sel kelabu, sama seperti sang pencipta, Agatha Christie.

Rabu, 09 Januari 2013

Menyibak Kehidupan Severus Snape (2)

B. Cinta Abadi Severus Snape

Rasa cinta Severus terhadap Lily sudah ada sejak pertemuan pertama mereka dan dibawanya sampai mati. Severus tidak pernah mengungkapkannya kepada Lily, Severus merelakan ketika hubungan persahabatan mereka berakhir dan Lily menikah dengan James. Bahkan Severus bersedia mengorbankan dirinya untuk melindungi Harry, putra dari wanita yang paling ia cintai dan pria yang paling ia benci. Pergolakan batin Severus untuk melindungi Harry sangatlah hebat, namun ia berhasil mengatasinya. Ia merupakan pelindung Harry yang terbaik sampai akhir hayatnya.
Bagi Severus, mencintai tak harus memiliki, namun mencintai adalah membiarkan kekasih hati bahagia,
bahkan mengorbankan dirinya untuk melindungi anak kekasih hatinya.

Cinta dan kesetiaan yang belum terlihat adanya di dunia nyata. Bentuk cinta yang seperti ini terlihat juga pada cerita Pak Wayan kepada Keenan dan ibunya pada novel Perahu Kertas (karya Dewi Lestari). Namun menurut saya, cinta dan pengorbanan Severus lebih besar dibandingkan cinta Pak Wayan.

Severus dan Lily


Cinta Severus pada Lily tersimpan rapat, hampir tak ada yang tahu. Bahkan sang pujaan hatipun tak tahu. Apapun yang dilakukan Lily (tidak memaafkan kesalahannya, meninggalkannya, melupakannya, bahkan menikah dengan pria lain) sama sekali tidak mengubah rasa cinta Severus padanya. Severus tidak pernah berpaling pada wanita lainnya. Ia membekukan hatinya, mengubur segala rasa dalam-dalam, hanya meninggalkan penyesalan dan kebencian kepada James Potter.

Rasa benci ini yang terlihat di mata Harry, sampai akhirnya ketika mata hijau bertemu dengan mata hitam, rasa cinta itu kembali terlihat. Rasa cinta abadi yang ia bawa sampai mati. Ah, semoga ia bertemu Lily pada kehidupan setelah kematian. Semoga mereka bisa kembali bersama.. Always..

C. Masa Kecil yang Buruk

Selain kisah cintanya yang menggugah hati, pengalaman masa kecilnya juga dapat menitikkan air mata. Severus kanak-kanak dan remaja sering mengalami kekerasan dari ayahnya serta melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Severus merupakan anak yang mengalami ketidakpedulian orang tua, khususnya sang ayah. Severus kecil mengalami "neglected" atau diacuhkan orang tuanya. Ayahnya tidak menyukai dan tidak menerima kenyataan bahwa sang istri dan anak merupakan penyihir. Menurut cerita Severus, ayahnya memang tidak menyukai segala hal.

Ketidaksukaan sang ayah terhadap sihir serta status "Muggle"-nya, membuat Severus pun semakin tidak menyukai ayahnya, bahkan tidak menyukai nama keluarga ayahnya, dan berusaha mengganti namanya menjadi Half-Blood Prince (Prince merupakan nama keluarga ibunya). Dalam hal ini, terdapat kesamaan antara Severus dan Voldemort, yaitu merupakan anak yang masa kecilnya tidak mendapatkan kasih sayang utuh, membenci ayahnya yang muggle, dan berusaha mengganti namanya.

Anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari orang tuanya bukanlah hanya Severus dan Voldemort, namun juga Harry. Rowling memperlihatkan bahwa masa kecil mereka sama, namun sifat mereka berbeda. Hal ini karena adanya cinta. Harry banyak mendapatkan cinta dari lingkungan sekelilingnya (bahkan sedikit dari keluarga Dursley, yang baru terlihat di buku ketujuh), Severus mengenal rasa cinta dari Lily, hanya Voldemort yang tidak mendapatkannya. Yah, ada atau tidaknya cinta bisa mempengaruhi mereka.

D. Perbandingan Voldemort, Severus, dan Harry Berdasarkan Kisah 3

Voldemort, Severus, dan Harry dapat diperbandingkan juga berdasarkan cara mereka bertemu dengan kematian. Lord Voldemort menghadap kematian seperti Antioch Peverell, melalui pertarungan merebut Elder Wand. Pertarungan untuk membuktikan siapa penyihir terkuat, tak terkalahkan oleh kematian. Namun justru pertarungan itulah yang membuatnya bertemu dengan kematian.
Severus Snape mati karena hal yang sama seperti Cadmus Peverell, yaitu karena rasa cinta yang begitu dalam pada seorang wanita. Sedangkan Harry Potter menyalami kematian seperti Ignotus Peverell, seperti sahabat lama.

E. Sifat-sifat Severus Snape

1. Pemberani
Harry Potter berkata pada anaknya, Albus Severus Potter, bahwa Severus Snape merupakan pria paling berani yang pernah ia jumpai. Tugas Severus Snape sebagai "double agent" merupakan tugas yang sangat membahayakan nyawanya. Severus juga berani menghadapi kenyataan bahwa ia akan dibenci banyak pihak.

2. Ikhlas
Severus Snape melakukan segala tindakannya tanpa diketahui orang. Tanpa merasa perlu adanya imvalan atau pujian. Ia benar-benar ikhlas melakukan tugasnya yang penuh bahaya itu.

3. Setia
Ah.. kesetiaan Severus pada Lily sudah tak diragukan lagi. Kesetiaan itu tercermin dengan bentuk patronusnya yang sama dengan Lily, serta kesediaannya menjaga putra Lily.
Kesetiaannya pada Dumbledore pun terlihat sangat indah. Severus mau melaksanakan perintah Dumbledore untuk membunuhnya sendiri, agar tidak merusak jiwa Draco Malfoy dan agar bukan pelahap maut sadis yang membunuhnya. Tanpa tahu tujuan lain Dumbledore, yaitu menyelamatkan Elder Wand dari tangan Voldemort. Hingga kematiannya, Severus tidak mengetahui hal ini. Ketika ia dibenci seluruh sekolah karena membunuh Dumbledore, ia tidak mengeluh. Ia tetap menjalankan perintah lukisan Dumbledore.
Di mata Voldemort pun, ia adalah abdi yang setia. Severus mampu memainkan peranan ini dengan sangat meyakinkan. Satu-satunya orang yang dapat membohongi Voldemort, sang ahli Legilimency. Mungkin, Snape bisa saja setia pada Voldemort, seandainya ia tidak membunuh Lily.

4. Cerdas
Sebagai mantan murid dan kepala asrama Slytherin, kecerdasannya tak perlu diragukan lagi. Bakatnya yang luar biasa di bidang ramuan, penciptaan mantra (seperti Sectusempra, Levicorpus), ilmu hitam, legilimency, pertahanan terhadap ilmu hitam, bahkan kemampuannya untuk terbang tanpa alat membuktikan bahwa ia berotak brilliant. Ia bahkan menjadi Profesor Hogwarts di usia terbilanh muda, 21 tahun. Voldemort pun mengakui kejeniusan otaknya, pujian terakhir Voldemort sebelum membunuhnya.

5. Rajin
Severus Snape remaja digambarkan memiliki sifat seperti Hermione Granger, yaitu sangat rajin, kutu buku, dan ambisius. Severus tampak sering memegang buku ketika sedang digoda The Marauders.Ketika ujian, Severus diceritakan hampir menempelkan hidungnya di.kertas ujian, hingga kertas ujiannya berminyak. Rumahnya di Spinner's End pun dipenuhi buku.

6. Menyayangi Harry Potter
Tanpa ia sadari, sebenarnya dari tahun ke tahun sejak pertemuannya dengan Harry Potter, Severus Snape.mulai menyayangi anak yang harus dilindunginya itu. Mata Harry yang mirip dengan Lily yang menjadi pencetus kasih sayang itu. Hal ini terlihat dari percakapannya dengan Dumbledore. Severus keberatan, jika akhirnya Harry harus mati di tangan Voldemort, dan Dumbledore pun bertanya: "Apakah kau mulai menyayangi Harry?". Severus menjawab dengan lambaian tonkat, rusa betina keperakan pun muncul dari ujung tongkatnya. Permintaan terakhir Severus pun, hanya ingin ditatap oleh mata hijau Harry, mata Lily, mata wanita yang sangat ia cintai.

Severus terlelap selamanya, setelah menatap mata itu. Selamat jalan Severus Snape, semoga kau menemukan kebahagiaan bersama wanita yang kau cintai, dalam kehidupan abadi.

Jakarta, 9 Januari 2013

Happy Birthday 53rd Professor Severus Snape!!!

#Essay yang dibuat untuk Snape Day 2013, terdiri atas dua bagian: Menyibak Kehidupan Severus Snape (1) & (2).

Menyibak Kehidupan Severus Snape (1)

Severus Snape memang hanyalah tokoh fiksi karangan Joanne Kathleen Rowling pada seri Harry Potter. Ia tidak nyata, ia tidak pernah ada dalam kehidupan ini. Namun, pengaruhnya cukup kuat, seakan-akan ia nyata dan pahlawan besar pada abad ini. Para penggemar, pembaca, dan penonton Harry Potter sudah pasti mengenalinya, pernah membencinya, lalu kemudian berbalik mengagumi bahkan jatuh hati padanya. Ya, Severus Snape merupakan sosok yang tiada duanya!

A. Kehidupan Severus Snape pada Kehidupan Harry Potter

Profesor Severus Snape digambarkan di awal kemunculannya (Harry Potter and Philosopher's Stone) sebagai seorang guru yang sangat galak, suka menghukum, pilih kasih hanya terhadap anak-anak dari asramanya saja, dan terlihat sangat membenci Harry. Bahkan ia dicurigai trio (Harry, Hermione, dan Ron) sebagai orang yang bermaksud mencelakai Harry dan akan mencuri Philosopher's Stone. Pada akhir cerita, kecurigaan-kecurigaan itu tidak terbukti. Prof. Quirrel-lah pelakunya. Prof. Snape malah melindungi Harry agar tidak jatuh dari sapunya ketika dimantrai Quirrel. Sebenarnya di sini sudah sedikit terlihat kebaikan Snape. Namun, Rowling dengan cerdasnya mengembalikan pemikiran pembaca bahwa Snape merupakan tokoh antagonis di buku-buku selanjutnya. Pembaca pun melupakan sedikit kebaikan Snape, bahkan tidak menyadari bahwa tindakan-tindakan Snape di buku-buku berikutnya merupakan upaya untuk melindungi Harry.

Pada tahun kedua Harry di Hogwarts, ketika Harry dan Ron mendapatkan masalah dengan Flying Ford Anglia dan berusaha masuk ke kastil tanpa ketahuan, Snape malah memergoki mereka yang sedang mengintip di jendela Aula Besar, memarahi mereka, membawa mereka ke kantornya, lalu menghubungi Profesor McGonagall dan Profesor Dumbledore untuk memberikan hukuman pada dua anak itu. Pada cerita ini, Snape tampak sangat jahat dan berusaha mengeluarkan Harry dari Hogwarts, namun sebenarnya ia mencemaskan Harry yang tidak datang dengan kereta api sekolah. Hanya Snape yang peduli dan memperhatikan bahwa Harry belum tiba dan berusaha mencarinya. Hanya Snape yang peduli terhadap berita dari Evening Prophet mengenai kekacauan yang dibuat oleh Flying Ford Anglia itu. Pada tahun yang sama pula, Snape berusaha melindungi Harry dengan membebaskannya dari mantra Tarrantalegra yang dilakukan Malfoy, serta menatap penuh makna ketika mengetahui Harry merupakan parselmouth. Dia mungkin mengkhawatirkan kemampuan Harry itu akan membahayakan Harry sendiri.

Pada tahun ketiga, Severus Snape masih berupaya melindungi Harry namun tetap terlihat jahat. Betapa marahnya ketika dia tahu bahwa Harry berkeliaran di Hogsmeade tanpa izin, sementara ada narapidana yang diduga mengincar nyawa Harry berkeliaran. Selain itu, Severus mengikuti trio ke Shrieking Shack, dan ternyata di sana mereka menjumpai Sirius Black yang masih dianggap narapidana berbahaya yang mengkhianati sahabatnya sendiri (James Potter) serta Remus Lupin yang merupakan werewolf. Tindakan ini lebih terlihat jelas di film ketiga Harry Potter daripada di bukunya.

Snape melindungi trio dari amukan werewolf


Pada tahun keempat, tindakan perlindungan Snape tidak terlalu tampak. Namun Snape selalu terlibat pada setiap momen penyelenggaraan piala api. Mulai dari rapat penentuan apakah Harry Potter diizinkan untuk menjadi salah satu peserta (Snape menentangnya), sampai akhir acara yang memakan korban Cedric Diggory. Snape tampak mencurigai keterlibatan pelahap maut pada acara itu, dan kecurigaannya terbukti. Barty Crouch Jr-lah yang berada di belakang layar untuk membangkitkan kembali Lord Voldemort dan membinasakan Harry Potter.

Pada tahun kelima, Snape lebih sering berada di dekat Harry. Dumbledore memerintahkannya untuk mengajari Harry Oclumency. Snape sering mengingatkan Harry agar tidak menjalin pikiran dengan Voldemort. Snape pun termasuk salah satu anggota Orde Phoenix, hal ini menjadi nilai positifnya di mata Hermione, walau Harry dan Ron masih berpikir negatif tentangnya.Alasan kebencian Snape terhadap Harry yang disebabkan dendamnya terhadap James Potter (yang mulai terkuak pada tahun ketiga Harry), makin diketahui. Harry pun memahami sikap Snape dan menyesal atas sikap ayahnya. Namun percakapannya dengan Siriua tentang hubungan ayahnya dan Snape, menghapus rasa sesal itu. Hubungan Harry dan Snape kembali merenggang, Snape tampak semakin membencinya, karena Harry terpergok sedang masuk ke Pensievenya, bahkan ingatannya yang paling buruk.

Severus remaja sedang dipermalukan James


Masih pada tahun yang sama, Snape berupaya melindungi Harry dari Umbridge dan Voldemort. Snape memberikan Veritaserum palsu pada Marietta Edgecombe, ketika Marietta mengadu pada Umbridge mengenai adanya grup Dumbledore's Army yang dibentuk Harry. Selain itu, Snape-lah yang menghubungi Dumbledore ketika Harry dan teman-temannya pergi ke Kementrian Sihir untuk menyelamatkan Sirius. Tanpa kehadiran Dumbledore saat itu, bisa saja Harry sudah terbunuh.

Pada awal tahun keenam Harry di Hogwarts, lagi-lagi Snape-lah yang mencoba mencari tahu keterlambatan Harry. Lagi-lagi Snape-lah yang menyambut Harry. Sebenarnya tambah terlihat kepedulian Snape terhadap Harry. Namun, lagi-lagi Jo mengemas rahasia besar Snape dengan baik. Snape justru tampak semakin mencari masalah dengan Harry. Apalagi di akhir buku ini, diceritakan bahwa Snape membunuh Dumbledore, mengkhianati Orde Phoenix! Ah, para pembaca semakin dibuat membenci dan mengutuki Snape. Jo is so brilliant!!!

Kebaikan-kebaikan Severus Snape baru terkuak setelah beliau wafat. Hal ini menyebabkan rasa sesal yang mendalam tidak hanya bagi Harry Potter sendiri, namun seluruh pembacanya. Rasa sesal ini menghasilkan rasa simpati, empati, kagum, bahkan cinta kepada tokoh itu melebihi pada tokoh yang lain. Terkuaklah rahasia terbesar Severus Snape, cintanya yang begitu dalam pada Lily Evans, kesetiaannya pada sosok yang ia cintai itu, pengorbanannya, rasa sakitnya, rasa sesal yang disebabkan perilakunya terhadap Lily yang menyebabkan Lily menjauhinya (menyebut Lily "mudblood"), bahkan Lily terbunuh (menyampaikan ramalan Trelawney pada Voldemort, sehingga Voldemort pun mengejar keluarga Potter). Snape menyimpan semua perasaannya rapat-rapat, hanya Dumbledore yang tahu. Namun, sebenarnya kalau diperhatikan, ekspresi wajah Snape yang selalu sama itu (dingin, hampa, kaku, dan terlihat galak), merupakan eksperesi seseorang yang menyimpan luka yang amat dalam dan selalu menyesalinya.

Eksperesi wajah Snape


Severus Snape terlihat dari luar sebagai antek Voldemort di Hogwarts. Jabatannya sebagai Headmaster banyak yang menentang, termasuk Hogwarts sendiri yang awalnya tidak mau menerima lukisannya. Namun, di balik semua itu, ternyata dialah pembela sejati Hogwarts, pelindung tak terlihat, selalu menjaga murid dan rekannya. Berjuang hingga akhir hayat.



Senin, 31 Desember 2012

Analisis mengenai Lord Voldemort (bagian 1)

Hari ini hari yang istimewa lho.. Penghujung tahun? Bukaaan.. tapi hari kelahiran Tom Marvolo Riddle alias Lord Voldemort. Lho koq istimewa? Dia kan penyihir paling jahat abad ini? Yupz, tapi tetap istimewa. Coba deh bayangkan.. Kalau tidak ada Lord Voldemort, apakah Harry Potter akan menjadi The Boy Who Lived? Ilustrasinya seperti gambar di bawah ini:



Nah.. berhubung hari ini merupakan hari ulang tahunnya (yang ke 86), maka aku mau menyediakan waktu untuk membicarakannya. Sebelumnya, yuks lihat sebentar foto-foto perjalanan hidupnya:









Huaaa.. ternyata Voldemort itu aslinya ganteng banget ya.. Tom Marvolo Riddle tuh tokoh yang paling ganteng lho di Harry Potter, hehe.. Menurut pengasuhnya di panti asuhan, harapan ibunya terkabul, "semoga ia seperti ayahnya". Memang secara fisik Tom Riddle Jr, mewarisi ketampanan ayahnya. Namun, sepertinya bukan itu harapan ibunya. Yang dimaksud dengan "seperti ayahnya" adalah anak ini diharapkan menjadi Muggle seperti ayahnya, bukan penyihir seperti ibunya.

Tom sendiri tampak keberatan memiliki kesamaan dengan ayahnya, orang yang paling ia benci dan.dengan teganya ia bunuh. Hal ini dapat dibuktikan dengan penggantian nama dan ia tidak keberatan kehilangan wajahnya yang tampan, rambut kecoklatan yang halus, serta hidung yang mancung. Padahal seharusnya sebagai penyihir terhebat, mudah bukan mengubah fisik menjadi mengagumkan? Atau mengobati luka di tubuhnya? Tapi ia tidak mau, dia lebih suka bertampang jelek dan menyeramkan. Mungkin ia merasa lebih kuat dan berkuasa dengan wajah seperti itu. Bukankah para penjahat umumnya berwajah monster?

Banyak spekulasi yang mencoba menganalisis wajah Voldemort yang jelek, seram, tanpa rambut dan tulang hidung, dan bermata pupil merah itu. Mulai dari yang konyol: Pada saat membangkitkan kembali Voldemort (akhir HP 4), Wormtail memasukkan "wujud bayi Voldemort" ke kuali terlalu keras, dan bagian depan wajahnya mengenai dasar kuali, sehingga hidungnya pun "penyok". Hehe..
Atau ada juga spekulasi bahwa "bayi Voldemort" menyusu pada Nagini. Hmm.. buka Bab 1 pada HP 4: Rumah Riddle. Memang ada perintah dari Dark Lord pada abdi setianya (Wormtail): "Perahkan Nagini untuk makan malamku!". Nah berhubung Nagini bukan mamalia, maka ia tidak punya susu, berarti yg diperas itu darah. Yah, wajarlah kalau wajah Voldemort mirip ular, karena darah Nagini mengalir pada tubuhnya. Spekulasi lain yah.. Voldemort kan berkeliling mencari ilmu hitam, so.. pasti banyak ketemu segala makhluk kegelapan dan kena serang, jadi sebelum kehancurannya di malam kematian Lily Evans dan James Potter pun, wajahnya sudah seperti itu. Jadi pas dibangkitkan kembali ya dia mendapatkan wajah terakhirnya. Kemungkinan terakhir, dia sengaja mengubah wajahnya menjauhi wajah ayahnya. Kalau mengenai pembuatan horcrux dan wajah yang rusak.. Hmm.. aku tidak menemukan kaitannya. Horcrux itu merusak jiwa, bukan tubuh.

Nah, sudah sedikit terjawabkah mengenai rasa penasaran kalian terhadap wajah Voldy? Sekarang lanjut ke persamaannya dengan beberapa tokoh lainnya. Ada dugaan JK Rowling terinspirasi dari mereka atau yah kebetulan saja mereka mirip.
1. Lord Voldemort dan Adolf Hitler
Kedua orang ini sama-sama tidak mengenal orang tua kandungnya, sama-sama membenci dan bertekad memusnahkan asal-usul mereka, mungkin karena dendam akibat pembuangan dari keluarga mereka. Hitler bertekad memusnahkan Yahudi, padahal ia pun memiliki darah Yahudi. Sedangkan Voldy bertekad menghancurkan Muggle, padahal darah Muggle juga mengalir di dalam tubuhnya. Mereka berdua menapaki langkah kekuasaan bertahap, mulai dari bawah. Mereka juga terkenal sangat jahat kepada musuh-musuhnya.
2. Lord Voldemort dan Firaunnya Nabi Musa (Ramses II)
Kedua orang ini sama-sama diramalkan akan dihancurkan dan dijatuhkan kekuasaannya oleh seorang bayi. Mereka pun berusaha membunuh bayi itu agar ramalan tidak terjadi. Namun, ramalan itu menjadi kenyataan. Mereka berdua pun memiliki sekelompok penyihir yang tangguh.
3. Lord Voldemort dan Sauron
Sama-sama mendapat gelar The Dark Lord, sama-sama menjadikan cincin sebagai alat untuk menyimpan kekuatan dan keabadian. Lord Voldemort tidak hanya memiliki cincin, tapi juga kalung, diary, ular, piala, mahkota, dan tubuh musuhnya. Ketika benda-benda itu dimusnahkan, maka musnah pula The Dark Lord. Mana yang lebih kuat di antara keduanya? Tentu saja Sauron, perlu ribuan tahun dan gabungan berbagai makhluk (hobbit, kurcaci, peri, wizard dan manusia) untuk mengalahkannya.

Sebetulnya saya masih mau melanjutkan tentang sisi psikologis Lord Voldemort, tapi takut sudah melewati tanggal 31 Desember, maka sampai sini dulu analisis saya, nanti dilanjutkan di tulisan berikutnya. Saya juga akan membuat fanfiction mengenai Voldy ;-)

Happy Birthday Lord Voldemort!

Minggu, 11 November 2012

Jika aku penyihir

Jika aku penyihir..

Mungkin aku akan membuat Love Potion untukmu..
Seperti yang dilakukan oleh Merope Gaunt untuk Tom Riddle.
Seperti yang diberikan Romilda Vane untuk Harry Potter.
Namun, ah aku rasa aku tidak mau melakukannya!
Bukan, bukan karena hal itu percuma dan bertahan tidak lama.
Seperti yang terjadi pada Merope, dia ditinggalkan oleh Tom Riddle, setelah tidak lagi meminun ramuan cinta..
Padahal dia tengah mengandung, namun suaminya tak peduli..
Hingga anak yang dilahirkannya sama sekali tak mengenal cinta.
Aku pun tak mau mengalami hal serupa.. Tapi bukan itu alasannya..
Bukan juga seperti yang dialami Romilda, ramuannya salah sasaran dan menyebabkan bahaya bagi orang lain..
Aku juga tak ingin cintaku seperti itu, membahayakan orang lain.. Tapi bukan itu juga alasannya..
Alasanku tidak membuat Love Potion adalah karena kau sudah mencintaiku.. untuk apa lagi Love Potion?

Jika aku penyihir..
Mungkin aku akan meng-Avada Kedavra banyak orang..
Mereka yang merintangi cinta kita..
Tapi.. tapi.. ah sepertinya aku tidak akan melakukannya..
Bukan karena itu mantra terlarang..
Bukan karena aku tidak ingin menghabiskan waktu di Azkaban..
Namun, aku tahu aku tak sanggup melakukannya, aku tak mau cintaku menyebabkan orang lain terbunuh..
Aku pun tahu, kau tak akan setuju..
Aku juga meneladani Severus Snape..
Bukankah dia tidak membunuh James Potter yang merebut cintanya?
Padahal ia mampu..
Bahkan ia meminta agar keluarga Potter dilindungi..
Ia pun turut menjadi pelindung anak James dan Lily..
Sampai mengorbankan dirinya sendiri..

Yah bisa saja aku akan menjadi Severus Snape..
Setia sampai akhir hanya pada satu cinta..
Berkorban dan berjuang melindungi anak kekasihnya dengan pria yang ia benci..
Pria yang telah merebut kekasihnya..

Namun, aku bukan Severus Snape..
Bahkan aku bukanlah penyihir..
Aku tak tahu apakah sanggup dan akan melakukannya?